Padi Roboh Jelang Panen, Petani Sragen Terancam Merugi
- Ditulis oleh admin --
- Rabu, 04 Juni 2025 --
SRAGEN, Kabarsukowati - Menjelang masa panen raya musim tanam (MT) II tahun 2025, para petani di Kabupaten Sragen dihadapkan pada persoalan serius. Sejumlah tanaman padi dilaporkan roboh sebelum waktunya, diduga akibat anomali cuaca kemarau yang masih disertai curah hujan atau dikenal sebagai kemarau basah. Kondisi ini menyebabkan kerugian bagi petani, karena mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyelamatkan hasil panen.Sejumlah petani mengeluhkan tanaman padinya roboh menjelang dipanen. Padi yang roboh ini hampir merata di semua area pertanian. Kondisi ini membuat mereka merugi, karena berat gabah turun, hingga biaya panen juga meningkat.
tokoh masyarakat Kabupaten Sragen Bambang Widjo Purwanto mengatakan, padi yang roboh bukan karena angin bukan arena hama. Menurut dia, penyebab padi roboh cuaca dan batang padi yang tidak kuat.
"Kalau saya melihat curah hujan terlalu tinggi. Kemudian pupuk unsur N (nitrogen) sehingga padi tumbuh subur setelah itu membawa buah yang baik. Sehingga unsur nitrogen banyak kelembapan tanah juga sangat berpengaruh terhadap batang padi itu sendiri, sehingga yang di bawah sehingga batang kurang kuat," katanya.
Anggota DPRD Sragen itu mengatakan, padi yang roboh sangat mempengaruhi hasil panen. Menurutnya gabah tidak akan maksimal isinya karena batang yang patah meskipun bisa didirikan lagi hasilnya tetap berkurang.
"Selain itu cost petani jadi tambah, harusnya tidak mendirikan batang akhirnya keluar biaya mendirikan. Terus berat padi pasti turun itu yang terjadi sekarang," ucapnya
Menurut dia, ada salah satu langkah yang dapat mencegah robohnya padi sebelum masa panen, perlu teknologi itu bernama pruning atau pemangkasan daun pada usia padi sekitar 30-40 hari.
"Ini sebenarnya untuk menguatkan batang padi itu di-pruning itu yang seharusnya lebih kuat. Tapi Petani sini cuma satu dua yang menerapkan kalau di-pruning ya ndak roboh karena batang kuat," kata dia.
Terpisah, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno dengan fenomena padi banyak yang roboh ini, perlu ada penelitian kecil-kecilan untuk mengetahui penyebabnya. "Apa kebanyakan pupuk, apa benih daya tahan sudah tidak kuat, apa mungkin curah hujan tinggi," kata Suratno
Suratno memprediksi robohnya tanaman padi ini dampak dari curah hujan tinggi. Dia meyakini faktor kemarau basah ini sangat berpengaruh terhadap tanaman padi.
"Biaya panen otomatis naik, petani ini harus mendirikan padi yang roboh, satu patok 10 orang satu hari tidak rampung (mendirikan padi)," ujar dia.(Aza)
Komentar