Napak Tilas Sang Pendekar Kata: Pimpinan Redaksi Kabarsukowati Kunjungi Kediaman Legenda, Kho Ping Hoo

SOLO — Aroma nostalgia menyelimuti udara pagi di kawasan Jagalan, Solo (03/08). Rumah sederhana yang menyimpan sejarah panjang sastra Indonesia kembali menjadi saksi pertemuan dua generasi: Joko Wahono, Pimpinan Redaksi Kabarsukowati, dan Ibu Indri, putri ke-5 mendiang penulis legendaris Kho Ping Hoo—sang pendekar pena dari Sragen.

Dalam kunjungan bertajuk “Napak Tilas Sang Maestro”, Joko Wahono datang bukan sekadar ingin membeli buku. Ia datang membawa rasa hormat, rindu, dan kekaguman terhadap sosok yang telah menulis ratusan cerita silat yang membesarkan imajinasi jutaan pembaca Indonesia.

“Saya merasa seperti kembali ke masa kecil, ketika membaca cerita silat di bawah lampu temaram. Buku-buku Kho Ping Hoo adalah guru imajinasi kami,” ujar Joko, usai membeli sejumlah judul seri cerita Kho Ping Hoo dari tangan keluarga langsung.

Kedatangan Joko disambut hangat oleh Ibu Indri, perempuan berwajah teduh yang dengan sabar menjaga warisan ayahnya. Di ruang tamu yang dindingnya penuh rak buku, tersimpan ratusan naskah asli sang maestro, beberapa di antaranya belum pernah diterbitkan ulang.

“Karya bapak tidak hanya milik keluarga, tapi milik bangsa. Kami senang jika masih ada yang datang dan menghidupi kembali semangatnya,” ucap Ibu Indri dengan senyum haru.

Kho Ping Hoo, Legenda dari Sragen yang Mendunia

Nama Kho Ping Hoo, atau Asmaraman Sukowati, adalah kebanggaan tak tergantikan bagi Kabupaten Sragen. Meski dikenal luas melalui tokoh-tokoh fiktif seperti Pendekar Pulau Es, pendekar dari selatan Sungai Yangtze, dan berbagai jagoan dunia persilatan, ia tidak pernah menginjakkan kaki ke Tiongkok—latar tempat semua kisahnya. Imajinasi dan semangat membaca adalah bahan bakarnya.

Ia lahir di Sragen tahun 1926 dan wafat pada 22 Juli 1994, namun karya-karyanya terus hidup—melintasi zaman, bahasa, bahkan platform. Dari buku stensilan, majalah, hingga kini bertransformasi dalam bentuk digital dan audiobook.

Kho Ping Hoo dikenal bukan hanya karena produktivitasnya menulis lebih dari 120 judul, tetapi karena kemampuannya menyampaikan nilai-nilai keadilan, kehormatan, dan perjuangan dalam narasi yang ringan namun menggigit.

Tak hanya di Indonesia, komunitas pembaca karya Kho Ping Hoo juga hadir di Malaysia, Singapura, hingga Taiwan. Bahkan, beberapa karyanya diterjemahkan dan dijadikan referensi untuk penulisan kreatif di kalangan penulis Asia Tenggara.

Mewarisi Nilai, Bukan Sekadar Cerita

Bagi Joko Wahono, kunjungan ke rumah sang penulis adalah bagian dari upaya literasi yang lebih besar: mengenalkan kembali tokoh-tokoh lokal yang telah mendunia kepada generasi baru. Menurutnya, Kho Ping Hoo bukan sekadar penulis cerita silat, tapi juga duta budaya dan moral yang menyuarakan kebenaran dalam bahasa petualangan.

“Kita butuh napas seperti Kho Ping Hoo di tengah banjir konten hari ini. Kisah-kisahnya mengajarkan banyak hal tanpa menggurui. Dan yang lebih penting, beliau berasal dari tanah yang sama dengan kita—Sragen,” tegas Joko.(Adm)


Tinggalkan Komentar

Komentar