Ironi Kedelai Impor Selevel Pakan Ternak, HKTI Sragen Dorong Kebangkitan Kedelai Lokal

SRAGEN — Peringatan Hari Tani Nasional sejatinya menjadi momentum kebanggaan bangsa Indonesia sebagai negara agraris. Namun, di balik capaian swasembada beras, masih tersimpan ironi besar: kedelai, komoditas vital untuk pangan rakyat, justru masih bergantung pada impor.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sragen, Saiful Hidayat, menegaskan bahwa gerakan swasembada pangan tidak boleh berhenti hanya pada beras. Menurutnya, kedelai seharusnya juga mendapat perhatian serius karena perannya yang sangat penting dalam ketahanan pangan nasional.

“Kedelai impor yang kita konsumsi sekarang 92 persen itu adalah GMO, rekayasa genetika,” ujar Saiful dengan nada prihatin.

Lebih memprihatinkan lagi, kedelai impor yang membanjiri pasar Indonesia mayoritas merupakan produk yang biasa digunakan untuk pakan ternak di negara asalnya, Amerika Serikat. Saiful bahkan memberikan perbandingan sederhana untuk menegaskan perbedaan kualitasnya.

“Kalau dicek tahu tempe sekarang, digeletakke semut ndak mau. Tapi kalau kedelai lokal, semut mau,” tegasnya.

Padahal, kedelai lokal memiliki kualitas premium: non-GMO, berprotein tinggi, dan lebih sehat. HKTI Sragen sendiri telah menyusun blue print kebangkitan kedelai lokal. Contohnya, melalui demplot di Kecamatan Sambirejo yang mampu menghasilkan lebih dari 1,5 ton per hektare, dengan harga jual Rp9.000 per kilogram. Nilai itu setara dengan keuntungan menanam padi.

Sebagai langkah lanjutan, HKTI Sragen tengah merancang kerja sama penangkaran benih kedelai lokal berkualitas premium. Targetnya, Sambirejo dapat menanam hingga 300 hektare kedelai tahun depan dengan hasil 1,5–2 ton per hektare. Namun, Saiful mengingatkan bahwa keberhasilan ini tetap membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah.

“Jangan sampai petani sudah menanam, tapi tidak ada yang menampung,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sragen Sigit Pamungkas dalam peringatan Hari Tani mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengenang perjuangan para petani, tetapi juga mensyukuri kondisi pertanian saat ini.

”Ini bagian dari memperingati Hari Tani. Sekaligus mensyukuri kemakmuran yang saat ini diperhatikan pemerintah, mulai dari pupuk yang terjangkau dan mudah didapatkan, serta harga yang bagus bagi petani," terangnya.

Sigit juga memastikan bahwa pemerintah daerah berkomitmen memberikan insentif kepada kelompok tani.

"Insentif itu sudah, penganggaran itu dipastikan akan ada," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa simulasi dan perhitungan telah dilakukan, tinggal menyesuaikan perubahan anggaran dari pemerintah pusat. (Aza)

Tinggalkan Komentar

Komentar